Haji Hasan Mustapa adalah ulama, budayawan dan sastrawan Sunda yang lahir di Cikajang, sebuah Kecamatan di wilayah Garut Selatan, tanggal 3 Juni 1852 M. Pertama kali perjumpaan saya dengan lembaran-lembaran dangding Haji Hasan Mustapa (HHM) adalah waktu bersilaturahim dengan salah seorang wartawan Majalah Mangle, kang Asep Ganjar Purnama, tahun 2004. Semakin saya mencerna—labirin maknanya seperti tak pernah usai melempar diri saya di atas perahu kecil yang tak henti berperang dengan badai. Saya pun menepi, selebihnya sepi, bertahun-tahun sepi. Tapi toh kegelisahan tak serta merta bisa dikuras habis meski dalam waktu yang demikian panjang. Beberapa tahun kemudian akhirnya saya dipertemukan kembali dengan dangding-dangding HHM.  Kalbu saya kembali terkurung dalam senandung Puyuh Ngungkung dina Kurung.

Haji Hasan MustapaBathin saya tak henti dihantui dangding Hariring nu Hudang Gering. Pikiran saya berulangkali tersuruk dalam gugus Dumuk Suluk Tilas Tepus. Berdesakan pikiran saya dalam Sinom Pamake Nonoman, terhimpit Amis Tiis Pentil Majapait—pergulatan tak biasa dalam kerumunan “mantra” yang menyimpan makna nan luar biasa. Ya, pertama kali saya membaca dangding HHM, saya terpikat oleh pada (bait) dalam  Puyuh Ngungkung dina Kurung:

ngalantung méméh ngalantung,
ngalinjing méméh ngalinjing,
néangan méméh néangan,
nepi ka méméhna indit,
datang saméméhna iang,
indit saméméh mimiti…

Bait yang sederhana, tetapi menyimpan makna yang tak mudah dicerna, setidaknya bagi saya. Tapi sesulit apapun maknanya, entah kenapa, sulit pula bagi saya untuk melupakan pesonanya yang tak henti menghantui kesadaran saya. Begitulah, bait diatas adalah salah satu dangding yang tak henti “menginterogasi” kesadaran saya sampai hari ini. Masih ada lebih dari 10.000 bait dangding lainnya–seperti laiknya 10.000 lebih orang yang menertawakan kejumudan hidup saya; bak 10.000 ulama yang menertawakan kekonyolan cara beragama saya; bagaikan 10.000 filosof yang menertawakan cara berpikir saya, dan seterusnya dan seterusnya.

Ya, dalam dangding-dangding HHM, saya seperti mencium aroma “harta karun” permenungan dan ajaran-ajaran yang sangat berharga, dan kita hari ini adalah orang-orang yang mempunyai tugas penting untuk menggali kekayaan makna-maknanya, agar tidak mati tenggelam di kubangan zaman. Kita patut bersyukur, karya-karyanya masih tetap hidup bersama kita, meski telah bertahun-tahun yang lalu ia wafat pada hari Senin, 13 Januari 1930 M. Ayo, kaum muda, sepatutnya juga kita terus menggali, menjaga dan tak henti mengapresiasi karya-karyanya.

SHARE
Oky Sastrawiguna adalah seorang penulis cerpen, puisi dan prosa. Oky Lasmini Sastrawiguna juga adalah seorang ibu rumah tangga asal Garut.

KOMENTAR